selamat datang di blog ogie sofiana

Air mata penantian

Tuhan memang adil, tuhan telah memberikan rahmat yang berlimpah pada kita terutama rasa cinta pada sesama mahluk. Kisah ini diawali ketika sepasang kekasih yang dihadapkan dengan ujian yang sangat berat yaitu harus berpisah. Sebut saja mereka tina dan gio mereka baru sekejap menikmati kebahagiaan tapi tina harus rela membiarkan kekasihnya pergi untuk bekerja ke kota.

Pagi itu dengan berat hati tina harus melepas kepergian kekasihnya itu untuk bekerja ke jakarta, tina pun menagis karena tak sanggup melepas kepergian gio, gio yang semula tegar berpisah dengan tina, dengan menolehkan muka harunya dia meneteskan air mata ketidaksanggupanya meninggalkan tina.

“ ka,, hati-hati di jalan......... kasih tau kabar kalau sudah sampai!” pesan tina pada gio sambil menyucurkan air mata ya yang sempat ia sembunyikan, karena dia tidak mau gio melihat dia mengangis.

“ ya de,, ka akan baik-baik, tunggu saja kabar dari kaka. Kaka pasti segera memberi kabar pada ade” jawab gio sambil memalingkan mukanya, karena dia tidak sanggup menatap matanya yang berbinar-binar.

Gio pun naik mobil saudaranya. Seiring dengan mobil berjalan, gio tak pernah melepaskan pandangan nya pada tina. Meskipun ini hanya perpisahan sementara karena pada bulan juli gio harus kembali ke kampungnya untuk ikut pendaftaran ke perguruan tinggi yang ia cita-citakan. Tapi rasa haru itu sulit tuk di bendungnya. Gio pun terus melamun memikirkan tina yang sulit dia tinggalkan hingga suatu saat regi membuyarkan lamunan gio yang sempat melayang-layang memikirkan tina.

“jangan melamun yo..........,” seru regi pada gio

“ ga ko,, saya ga melamun,, Cuma terasa pusing aja..” jawab gio sambil memalingkan mukanya ke arah kaca mobil yang ia tumpangi sambil melihat pemandangan pegunungan yang terlihat di sela-sela kaca mobil.

“ jangan-jangan kamu mau.......” seru regi mengolok gio...

“ wusss saya Cuma pusing saja, tak mungkin lah saya mabuk perjalanan” jawab gio sedikit angkuh dan tak mau memperlihatkan kelemahannya

“ iya...... iya... Cuma bercanda ko. Lagian dari tadi kamu melamun saja. Nih makan” jawab regi sambil mengasongkan bungkusan pelastik yang berisi bakwan yang dia bawa dari rumah untuk di perjalanan. Gio pun mengambilnya karena tak mau menolak niat baik saudaranya itu.

Gio pun bersama regi tiba di jakarta, dan gio langsung mengabari tina dengan telepon genggamnya itu. Tina pun senang karena gio sampai dengan selamat. Hari demi hari tak kala ada waktu senggan dari pekerjaannya, gio sering menelepon tina hanya sekedar memberi kabar dan berkangen-kangenan. Meskipun tak jarang salah paham sering menghampiri mereka dan membuat mereka bertengkar. Tapi pertengkaran itu tak berlangsung lama. Dan pertengkaran itu di sebabkan jarak yang memisahkan mereka. Tina tidak sabar ingin bertemu dengan gio dan gio menolak untuk pulang karena dia akan pulang pada bulan juli. Percakapan di telepon sangat panas, keegoisan di antara mereka sangat tampak.

“kaka harus segera pulang......!!!!” kata tina dengan ucapan yang sedikit sinis pada gio, tapi gio terus saja memberikan penjelasan pada tina bahwa iya akan pulang secepatnya setelah pekerjaan nya selesai.

“ya de,,, kaka akan segera pulang. Tapi nanti pas bulan juli setelah ada panggilan untuk daftar masuk kuliah, de ngertikan???” perkataan itu sering iya ucapkan dikala mereka sedang bertengkar.. tapi tina dengan perasaan egoisnya terus memaksakan kehendaknya karena dia ingin cepat bertemu dengan pujaan hatinya.

Hingga suatu hari pertengkaran diantara mereka di telepon berlangsung hebat, hingga mereka memutuskan untuk berpisah.

Dengan menyucurkan air mata tina berkata......

“Sudahlah ka, tina tidak sanggup untuk melanjutkan hubungan ini. Mending kita akhiri saja hubungan ini!!!”

“Baiklah kalau itu mau mu. Ka tak bisa megelak dengan keputusan mu” jawab gio waktu itu dengan emosi. Karena gio sakit hati pada tina. Mereka pun behenti bertengkar dan saling berdiaman hingga akhirnya gio menutup telepon tina dengan perasaan kesalnya.

Tapi perkataan itu tak berlangsung lama esok harinya mereka saling meminta maaf atas kesalah pahaman diantara mereka. Dan mereka berbaikan lagi.

Mungkin tina dan gio sudah merasa bosan, karena setiap dia bertengkar pasti hal itu yang jadi permasalahan mereka hingga akhirnya tina pun mengalah dan berusaha bersabar menunggu gio pulang

Gio pun merasa kasihan pada tina yang terlalu lama menunggunya dan dia memutuskan tuk pulang pada bulan desember. Tina yang mendengar ini sangat bahagia

“ bener kaka pulang bulan desember?” tanya tina dengan gembira pada gio.

“ benar de,, ka kasihan pada de, karena harus menunggu lama. Dan kaka juga sudah ga sabar untuk ketemu ade....” gio menjawab pertanyaan tina dengan gembira mendengar suara kekasihnya yang senang karena kekasih yang selama ini dia tunggu pulang.

Gio pun pulang dari jakarta bersama saudara ya. Dengan hati yang senang gio berharap bertemu lagi dengan kekasihnya itu... ditegah jalan dia berhenti sejenak tepatnya di toko oleh-oleh. Dia berniat membeli oleh-oleh untuk keluarga dan untuk kekasihnya. Tina yang tak sabar menunggu kedatangan gio terus mondar mandir gelisah setiap detiknya, bahkan setiap menit dia terus menoleh ke arah jalan raya berharap mobil yang di tumpangi kekasihnya berhenti di depannya. Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi gio pun berhenti tepatnya di depan tina, tina pun sangat senang saat melihat gio turun dari mobil dan menunjukan raut muka gembira.. gio pun menyapa tina.

“ pa kabar sayang? Baik-baik aja kan??” sapaan itu dia ucapkan dengan perasaan senang karena dia bisa bertemu lagi dengan kekasihnya.

“ kabar ku baik-baik saja, kalau kaka gimana?”

“ kaka baik-baik saja, liat saja keadaan kaka, baik-baik aja kan?” mereka pun saling melemparkan pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan mereka hingga akhirnya mereka pulang ke rumah yang tak jauh dari jalan raya.

Kebahagian mereka pun dapat mereka rasakan kembali setelah sekian lama tidak bertemu. Hari-hari mereka terasa bermakna lagi hingga akhirnya sampai pada waktu gio untuk melakukan pendaftaran ke perguruan tinggi dan akhirnya gio di terima di universitas itu dan gio melaksanakan kuliah di sana.

Dengan perasaan gembira gio memberi tahu kekasihnya itu

“De, kaka di terima di perguruan tinggi yang kakak idam-idamkan selama ini”

“Syukurlah ka......., kalau kakak di terima di perguruan tinggi itu. De ikut senang atas diterimanya kakak” jawab tina dengan hati yang gembira mendengar kekasihnya di terima di perguruan tinggi ternama di Bandung.

Ya..... itulah sekilas kisah percintaan dua remaja yang saling menyayangi yang sempat terpisah oleh jarak, tapi mereka dapat bersabar dan bertemu lagi dengan bahagia. Mudah-mudahan dapat mengambil amanat dari cerita ini.

Ogie sofiana 2010

Selasa, 04 Januari 2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar